Cara Mencegah Tertularnya Penyakit Kusta
0 Comments

Kusta atau lepra merupakan penyakit pada kulit yang terjadi pada sistem saraf peridfer, saluran pernapasan dan mata. Adanya lepra dapat menjadikan kulit menjadi luka, rusaknya saraf, melemahnya otot dan mati rasa. Penyebabnya adalah bakteri yang hidup 6 bulan hingga 40 tahun dalam tubuh, dan tanda serta gejalanya muncul 1 hingga 20 tahun setelah terinfeksi dari tubuh penderita lainnya. Gejala penyakit berupa mati rasa, muncul lesi pucat dan menebal pada bagian kulit, muncul luka, pembesaran saraf, kelemahan otot, hilangnya alis dan bulu mata, hilangnya jari jemari dan kerusakan hidung yang menimbulkan mimisan atau kehilangan tulang hidung.

Berikut adalah jenis dari lepra diantaranya:

  • Intermediate leprosy, merupakan lepra dengan lesi datang yang dapat sembuh dengan sendirinya namun dapat berkembang lebih parah.
  • Tuberculoid leprosy, yang ditandai dengan lesi datang besar dan mati rasa, dapat sembuh dan dapat berlangsung lama hingga berkembang menjadi lepra yang parah.
  • Borderline tuberculoid leprosy, lesi berukuran kecil dan banyak yang bertahan lama hingga menjadi parah dan terjadi pembesaran saraf.
  • Mid borderline leprosy, yang ditandai dengan plak merah, mati rasa sedang, pembengkakan pada kelenjar getah bening yang dapat sembuh maupun bertahan hingga menjadi lepra yang parah.
  • Borderline lepromatous, yang ditandai dengan lesi dalam jumlah banyak, terdapat benjolan, plak dan nodul serta mati rasa.
  • Lepromatous leprosy, yang ditandai dengan lesi bakter, rambut rontok dan gangguan saraf yang membuat badan melemah dan tubuh berubah bentuk.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan seseorang menderita kusta adalah melakukan kontak langsung secara fisik pada hewan yang memiliki bakteri tanpa menggunakan sarung tangan. Hewan tersebut biasanya armadillo dan simpanse. Calon penderita tinggal dalam kawasan endemik lepra dan kelainan genetik yang berakibat pada kekebalan tubuh. Lepra di diagnosis setelah melihat perubahan klinis yaitu kelainan bercak pucat atau merah yang terdapat pada kulit dan membuat penebalan saraf. Dapat juga di diagnosis dengan kerokan kulit dengan klarifikasi WHO, yaitu terdapat lesi kulit pada kerokan kulit negatif dan lesi kulit pada kerokan kulit positif.

Penderita lepra biasanya diberikan antibiotik selama 6 bulan hingga 2 tahun dengan jenis, dosis dan durasi tertentu. Melakukan pembedahan untuk lepra untuk menormalkan kembali fungsi saraf yang telah rusak, memperbaiki bentuk tubuh yang cacat dan mengembalikan fungsi dari anggota tubuh. Komplikasi dari lepra dapat terjadi seperti kebutaan, gagal ginjal, kerusakan permanen pada hidung, kerusakan saraf yang terjadi diluar otak, kemandulan, kelemahan otot dan cacat.

Berikut adalah cara mencegah lepra:

  • Menjaga kekebalan tubuh dengan mengatur pola makan dan mengonsumsi makanan yang sehat, istirahat cukup dan tetap rutin melakukan aktifitas fisik setidaknya 3-4 kali dalam seminggu.
  • Perhatikan ventilasi, kuman lepra bertahan 24 hingga 48 jam diluar tubuh dan semakin panas lepra akan semakin cepat mati, sehingga pastikan cahaya matahari dapat masuk dengan baik dalam ruangan yang lembab.

Selain itu sebaiknya tidak pergi pada kawasan yang endemik seperti di beberapa negara Ethiopia, India, nepal dan Brazil. Jika memiliki keluarga yang menderita lepra sebaiknya mengonsumsi obat dan konsultasi dengan dokter untuk memutuskan rantai penularan sehingga menghindari efek yang lebih besar dan kecacatan permanen. Berada di lingkungan penderita kusta sebaiknya menggunakan masker dan tetap menjaga kebersihan seperti mandi setelah pulang dari menjenguk teman dan mencuci tangan jika bersentuhan langsung.